Anak Mamak

Anak Bermain Gadget, Cemas atau Bangga?

Anak bermain gadget atau gawai sudah lumrah kita lihat saat ini. Bahkan meski usia mereka belum lagi cukup untuk jadi siswa PAUD, HP dan sejenisnya bukan barang aneh di tangan kecil mereka.

Apalagi sejak pandemi, PJJ (pembelajaran jarak jauh) membuat anak harus berinteraksi dengan gadget, entah itu HP, tablet, laptop, dll.

Bagi sebagian orang tua, anak akrab dengan gadget merupakan sebuah kebanggaan. Karena pada usia dini, anak-anak telah mampu melakukan banyak hal di bidang teknologi.

Namun sebaliknya, ada pula orang tua yang merasa khawatir ketika anak mereka terlalu nyaman dengan gadget. Lalu bagaimana dengan Mamak?

Ciri-ciri Anak Kecanduan Gadget

Dikatakan kecanduan gadget adalah ketika seseorang terlalu berlebihan berinteraksi dengan gadget atau gawai. Tidak peduli berapa pun usianya, bahkan jika pekerjaannya memang menuntut untuk interaksi yang intens dengan gadget, seseorang dikatakan candu jika ia tidak mampu mengontrol diri dari terus menyentuh alat teknologi tersebut.

Anak Bermain Gadget

teras

Kasus anak kecanduan gadget sangat banyak terjadi, bahkan sebelum covid-19 merebak, yang mengharuskan kita lebih banyak di rumah sehingga anak lebih sering bermain HP.

Kecanduan gadget pada anak usia dini maupun pada orang dewasa biasanya diawali dengan phubbing, yaitu kebiasaan mengabaikan orang lain dan lebih mengutamakan gadget. Setelah kebiasaan ini terus berlanjut, maka seseorang akan masuk pada tahap kecanduan.

Perhatikan anak-anak Mamak, apakah ciri-ciri anak kecanduan gadget berikut ini ada pada mereka?

  • Anak bermain gadget lebih dari 2 jam tanpa jeda. Dalam satu hari, mereka bisa menghabiskan waktu hingga 10 jam bersama gadgetnya.
  • Meski sedang tidak memegang HP atau gadget lainnya, anak-anak yang kecanduan gawai tidak fokus saat diajak berbicara. Jika bicara saja gak nyambung, gimana dengan belajar ya, Mak?
  • Anak merasa gelisah ketika tidak bersama gadgetnya. Inilah salah satu sebab mereka tidak fokus ketika diajak bicara.
  • Muncul ledakan emosi karena kegelisahan tersebut. Amarah anak tidak terkendali, bahkan tidak jelas apa yang menyebabkan mereka marah.

Efek Anak Kecanduan Gadget

Kalau dilihat dari ciri-cirinya, sudah nampak kan, Mak, bahayanya jika anak-anak kecanduan gadget. Tapi apa pun itu, yang namanya kecanduan, jelas tidak baik.

Hal yang awalnya sehat dan baik sekalipun, jika dilakukan berlebihan dan melampaui batas, akan jadi tidak baik. Interaksi dengan gawai adalah salah satunya.

Dan inilah dia, daftar efek kecanduan gadget yang Mamak pasti tidak mau terjadi pada anak-anak di rumah:

  • Phubbing, sebagai cikal bakal kecanduan gadget, adalah tindakan yang tidak beretika. Mengabaikan orang lain, apalagi yang lebih tua, merupakan contoh minimnya sopan santun.
  • Berinteraksi dengan gadget, yang pada dasarnya adalah robot (dengan kecerdasan buatan), membuat seseorang kurang bahkan tidak mampu bersimpati, alih-alih berempati. Sebab robot hanya memiliki “akal”, tapi tidak perasaan. Gadget merespons dengan cara yang berbeda dengan manusia.
  • Karena tingkah laku yang berbeda dari anak kebanyakan, anak-anak yang kecanduan gadget bisa saja dijauhi atau malah menjauh lebih dulu dari lingkungan sosialnya.
  • Terpisah dari lingkungan sosial menyebabkan anak-anak rentan depresi. Tak sampai di situ, gangguan mental seperti bipolar, skizofrenia, psikosis, dsb, juga kerap menimpa orang-orang dengan kecenderungan antisosial.
  • Perkembangan otak anak akan terganggu. Pertumbuhan otak dipengaruhi oleh stimulus dari lingkungan. Anak yang terpapar HP, TV, dan produk teknologi lainnya secara berlebihan, akan mengakibatkan kemampuan kognitifnya menurun.
  • Kemampuan kognitif adalah kemampuan yang berkaitan dengan daya pikir, memahami hal baru, menganalisis, daya ingat, dsb. Anak-anak yang lemah kognisinya akan sangat kesulitan memahami pelajaran sekolah.
  • Karena terlalu nyaman dengan gadget, anak yang kecanduan dipastikan kurang gerak. Padahal usia anak-anak adalah masanya mereka aktif. Akibatnya, anak-anak yang kecanduan gadget rentan menderita obesitas.
  • Penelitian menunjukkan, kecanduan gadget meningkatkan risiko obesitas hingga 30%. Selain itu, anak-anak yang mengakses teknologi tanpa pengawasan orang tua sebanyak 75% di antaranya mengalami kurang tidur. Padahal tidur adalah kebutuhan penting anak-anak agar tumbuh tinggi, dan penting pula untuk perkembangan otaknya.
  • Meski beberapa gadget digadang-gadang menggunakan layar antiradiasi, nyatanya otot mata tetap mengalami kelelahan jika terus bekerja menatap layar HP, tablet, PC, maupun gadget lainnya.

Cara Aman Anak Bermain Gadget

Apakah gadget melulu memberi efek buruk? Rasanya Mamak pun paham bahwa itu tidak benar. Nyatanya saat pandemi ini, gawai justru memudahkan kita semua agar tetap bisa melakukan banyak hal.

Termasuk anak-anak, mereka tetap bisa sekolah berkat gadget. Meski diakui, tidak akan sebanding dengan sekolah tatap muka. Baik dari segi kemudahan menangkap materi pelajaran, maupun keseruan yang dirasakan anak-anak saat bertemu dengan teman-temannya.

Lantas bagaimana caranya agar Mamak dapat mengambil manfaat dari gadget dan meninggalkan mudaratnya?

Sebagaimana kita memahami pentingnya teknologi dan efeknya, anak pun perlu tau hal tersebut. Anak-anak yang sudah berusia 6 tahun ke atas bisa memahami kok, Mak, asal disampaikan dengan baik.

Informasi yang Mamak berikan sebaiknya fokus pada kebaikan mereka, bukan pada gadgetnya. Alih-alih mengatakan baterai atau kuota tinggal sedikit, khawatir rusak, dsb, melainkan dampak buruk penggunaan gadget pada anak-anak, jika tidak sesuai porsi.

Konsekuensinya, pada hal yang memang gadget dibutuhkan (misalnya PJJ dsb), Mamak memang memberi anak-anak gadget yang siap pakai. HP dengan baterai penuh dan kuota cukup, atau fasilitas lain yang dibutuhkan.

Artinya orang tua mendukung untuk kebaikan mereka, dan memberi batasan juga demi kebaikan anak. upayakan anak-anak Mamak memahami itu dengan baik, ya, Mak.

Agar Anak Jauh dari Gadget

Setelah memberi pemahaman, jadilah teladan. Orang tua harus lebih dahulu bebas dari kecanduan pada gadget sebelum melarang anak-anaknya. Jika Mamak atau pasangan memberi nasihat tapi tidak mencontohkan yang baik, percayalah, nasihat Mamak hanya akan jadi bumerang.

Anak Bermain Gadget

kompasiana

Ketika anak-anak protes atas ketidakkonsistenan orang tua, itu bahkan jauh lebih baik daripada mereka diam, tapi pelan-pelan tumbuh jiwa hipokrisi di dalam diri mereka. Jika anak melakukan kesalahan, orang tua adalah tersangka pertama, bukan pihak lain.

Setelah nasihat dan teladan, berikut aturan yang bisa Mamak terapkan agar anak-anak tidak terjebak menjadi pencandu gadget.

  1. HP atau gawai apa pun secara kontinu digunakan tak lebih dari 2 jam. Beri jeda jika diperlukan waktu yang lebih panjang, baik untuk tugas sekolah maupun penggunaan untuk kepentingan lain.
  2. Tinggalkan gadget saat makan.
  3. Pastikan gadget tidak mengganggu jadwal tidur.
  4. Jangan gunakan HP/tablet saat baterai sedang diisi ulang. Untuk mempercepat pengisian, Mamak bisa matikan data dan atau wifi. Tidak disarankan menonaktifkan HP, agar pada kondisi darurat orang lain tetap bisa menghubungi lewat SMS atau telepon langsung.
  5. Anak usia SMP ke bawah sebaiknya tidak memiliki gadget sendiri. Jika Mamak tak ingin berbagi HP dengan anak, berikan mereka HP khusus dengan sistem pinjam.
  6. Jangan lupa untuk mengecek secara rutin rekaman aktivitas mereka di HP atau gadget lain yang Mamak pinjamkan. Perhatikan file-file simpanan mereka, jejak penelusuran, hingga topik perbincangan anak dengan temannya. Jangan khawatir soal privasi, sebab pada usia itu mereka memang membutuhkan intervensi orang tua.

Itulah informasi yang bisa KawanMamak berikan, agar anak bermain gadget tidak menjadi momok bagi orang tua. Anak fasih dengan teknologi, tapi tidak kecanduan gadget. Bikin bangga tanpa cemas, itu kan yang Mamak mau?

Baca juga: Agar Anak Mau Belajar di Rumah

2 Comments

Leave a Comment