Anak Mamak

Depresi pada Anak Sekolah, Waspada Mak!

Pada umumnya didikan orang tua sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan sang anak. Selain itu, lingkungan dan orang-orang terdekat juga menjadi bagian terpenting dalam setiap aktivitasnya sehari-hari.

Meskipun dunianya hanya sebatas bermain dan sekolah, tanpa Mamak sadari, mungkin ada beberapa hal yang bisa membuat anak takut dan tidak percaya diri dalam melakukan sesuatu.

Hal-hal tersebut merupakan salah satu bagian dari depresi yang dialami oleh anak, khususnya pada masa sekolah.

Depresi pada anak akan berdampak dalam kehidupannya di masa yang akan datang. Anak-anak cenderung diam dan memilih memendam perasaan.

Mereka merasa tidak mampu menyampaikan kepada orang tua, sehingga hal buruk yang terjadi pada anak terkadang tidak memiliki ruang untuk disampaikan.

Depresi merupakan kondisi yang berhubungan dengan peningkatan atau penurunan suasana hati seseorang, akibat hal-hal buruk yang terjadi pada dirinya.

Usia anak sangat rentan tepengaruh dalam menghadapi hal-hal baru di sekelilingnya. Apalagi pada usia sekolah, anak sudah mulai menemukan dunianya yang baru.

Depresi pada anak sekolah yang paling sering kita jumpai mungkin berkaitan dengan tugas sekolah dan tindakan teman sekelasnya.

Sebenarnya di luar sana, ada banyak penyebab dari depresinya sang anak. Meskipun terkesan sepele, orang tua wajib mengetahui apa yang menjadi penyebab dari depresi pada anak.

Penyebab Depresi

Photo by Joel Overbeck on Unsplash

Penyebab Depresi pada Anak Sekolah

Umumnya depresi terjadi dikarenakan hal-hal kecil yang mungkin masih diabaikan oleh orang tua. Tidak semua aktivitas anak mampu melibatkan orang tua didalamnya, sehingga hal ini kadang tidak disadari oleh ayah dan ibu.

Tuntutan Orang Tua terhadap Anak

Sebagian orang tua selalu menuntut agar anak mampu menjadi siswa yang pandai di sekolah. Padahal sejatinya, setiap anak memiliki bakat dan kemampuannya masing-masing.

Keinginan orang tua agar anak menjadi juara di kelas menjadi salah satu contoh beban yang diberikan oleh orang tua.

Oleh sebab itu, seharusnya Mamak tidak perlu menuntut anak untuk menjadi versi terbaik dari kacamata nilai rapor. Berikan kebebasan untuk mengasah bakat dan kemampuannya masing-masing!

Tugas Sekolah

Sama halnya dengan tuntutan nilai yang bagus dari orang tua, tugas sekolah yang diberikan kadang juga mampu membuat anak depresi. Tuntutan tugas sekolah yang banyak dan harus dikerjakan terus-menerus membuat anak bingung dan merasa terbebani.

Orang tua sangat penting dalam mendampingi masa sekolah yang sedang dijalani oleh anak, meluangkan waktu untuk membantu mengerjakan tugas, sehingga hal ini bukan lagi menjadi momok menakutkan bagi anak.

Bullying/Perundungan

Anak pada masa sekolah tentu akan menemukan banyak teman baru. Namun terkadang, teman merupakan pelaku dalam kasus bullying yang terjadi pada anak di berbagai tempat, termasuk sekolah.

Ada banyak hal yang menjadi alasan mengapa kasus bullying sering terjadi pada anak, seperti bentuk dan postur tubuh yang tidak sempurna, warna kulit, bahkan sampai keadaan keluarga, dapat dijadikan bahan bully yang dilakukan oleh anak terhadap temannya.

Merasa memiliki banyak kekurangan menyebabkan anak berpikir ia tidak dihargai dan tidak diterima oleh orang-orang sekitar.

Kekerasan dalam Rumah Tangga

Kekerasan dalam rumah tangga kerap terjadi dalam keluarga. Tindakan kekerasan yang pernah dilakukan oleh sesama orang tua atau orang tua terhadap anak, akan memberikan alasan kenapa anak memendam kepedihan dan kekecewaan.

Sebagian orang tua mungkin menganggap bahwa memukul merupakan salah satu bentuk ketegasan dalam mendidik anak sejak dini.

Alih-alih anak menjadi lebih baik, tindakan tersebut justru mengakibatkan depresi pada anak.

Pelecehan Seksual

Beberapa kasus pelecehan seksual banyak terjadi pada anak di masa sekolah. Pelakunya mungkin tidak dikenali, tapi kebanyakan justru orang terdekat.

Kasus pelecehan seksual yang terjadi pada anak dapat meyebabkan trauma, membuatnya ketakutan jika bertemu dengan orang-orang baru, dan berujung pada depresi.

Semua itu terjadi karena anak memendam perasaan dan merasa tidak berharga.

Broken Home

Retaknya hubungan antara suami dan istri dalam sebuah rumah tangga atau yang biasa disebut dengan broken home, dapat menjadi faktor utama dari depresinya sang anak.

Masa pertumbuhan dan perkembangan anak sangat memerlukan bimbingan dan figur kedua orang tuanya dalam melakukan banyak hal.

Apabila salah satu dari mereka memutuskan berpisah, tentu anak akan menjadi korban dan kehilangan hal-hal penting yang seharusnya mereka miliki.

Ciri-ciri Depresi

Photo by Max Goncharov on Unsplash

Ciri-ciri Depresi pada Anak

Tanda bahwa anak Mamak sedang depresi dapat dilihat dari beberapa hal aneh yang mungkin terjadi padanya. Tanpa Mak sadari, terkadang anak mengalami perubahan yang cukup drastis dari biasanya.

Depresi pada anak dapat dilihat dari gejala fisik dan gejala mental. Umumnya, gejala fisik yang terjadi pada anak depresi adalah cenderung sakit kepala, nafsu makan berkurang, berat badan yang tidak bertambah, cepat lelah, hingga sulit tidur.

Sedangkan gejala mental pada anak yang depresi, biasanya berupa perubahan emosi, seperti mudah mengamuk, selalu murung dan mengurung diri, berbohong, kehilangan keceriaan sehingga tidak lagi bergembira dalam melakukan hobinya, sampai sulit berkonsenterasi dalam mengerjakan tugas sekolah.

Selain itu, anak yang mengalami depresi biasanya akan menarik diri dari pergaulan dengan teman sebayanya. Merasa bersalah dan sering terlihat gelisah.

Jika gejala tersebut berlangsung hingga lebih dari dua pekan, orang tua dapat mencurigai bahwa anak sedang mengalami depresi, dan wajib untuk segera mengatasinya.

Cara Mengataso Depresi

Photo by Julia Raasch on Unsplash

Cara Mengatasi Depresi pada Anak

Hal yang paling utama adalah peran kedua orang tua dalam mengupayakan pemulihan psikologi anak.

Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam mengatasi depresi pada anak adalah konseling dan psikoterapi, terapi bermain, serta pemberian obat-obatan anti depresan.

Namun semua itu tidak mungkin dilakukan secara langsung tanpa anjuran dari dokter dan psikolog. Apabila anak mengalami depresi yang cukup serius, orang tua perlu membawa anak ke psikiater terdekat, agar mendapatkan pengobatan dan perawatan yang memadai.

Dukungan orang tua dan orang-orang di sekitarnya sangat penting dalam pemulihan depresi sang anak. Memberikan perhatian dan kasih sayang yang lebih dari sebelumnya, menjadi salah satu obat penting bagi kesehatan mental setiap anak.

Orang tua perlu membimbing anak dan terus melakukan yang terbaik agar anak merasa berharga. Melindungi dengan memberikan batasan-batasan tertentu, namun tetap memberikan kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri.

Selain itu, pentingnya ruang bagi anak untuk menyampaikan keluh kesah dan hal-hal buruk yang terjadi padanya guna membangun kepercayaan diri.

Anak yang depresi tentu merasakan siklus hidup berbeda dari sebelumnya. Orang tua dapat membantu dengan mengatur menu dan pola makan yang sehat, tidur yang cukup, dan menyediakan waktu baginya untuk bermain atau sekadar melakukan hobinya.

Mamak dan pasangan harus bersabar dan tetap berpikir positif untuk membantu memulihkan kondisi buah hati. Agar tidak terjadi depresi pada anak, karena komunikasi antara anak dan orang tua sangat membantu dalam pertumbuhan dan perkembangan anak di masa yang akan datang.

 

Beberapa data diolah dari alodokter

Featured image : Photo by Caleb Woods on Unsplash

Leave a Comment