Jangan Lewatkan, Ini Persiapan Sebelum Melahirkan!

| |

Menjadi ibu adalah momen ter-wah, setelah momen wah pertama ketika ijab kabul disahkan. Apalagi yang menunggu jabang bayi bukan hanya ibu dan ayahnya, tapi juga dua pasang kakek nenek, paman bibi, bahkan dokter/bidan yang membantu persalinan.

Omong-omong, persiapan sebelum melahirkan sudah matang belum? Jangan sampai kewalahan setelah bayinya keburu keluar loh, Mak!

Ada dua hal yang mesti dipersiapkan para ibu sebelum melahirkan, baik itu persalinan normal maupun lewat operasi caesar (Sectio Caesarea). Pertama, persiapan yang nampak secara fisik dan harus dilakukan sebelum persalinan. Kedua, persiapan psikis, informasi yang praktiknya baru akan dilakukan pascapersalinan. Yuk, cek ulasannya!

persiapan sebelum melahirkan

Persiapan Fisik Sebelum Melahirkan

1. Lengkapi Kebutuhan Pakaian Bayi dan Ibu

Baik membeli dari toko maupun lungsuran dari saudara, semua pakaian ini wajib Mamak cuci kembali. Minimal dibilas ulang, kemudian disetrika setelah kering, untuk mencegah risiko terpapar virus dan bakteri dari pakaian.

Untuk pakaian bayi, sebagian besar Mamak mungkin sudah terbayang, semisal popok, bedung, handuk, dan lainnya. Apalagi tradisi masyarakat kita yang kerap memberi kado untuk seseorang yang baru melahirkan. Hal tersebut sangat membantu pemenuhan kebutuhan pakaian bayi.

Tapi apa Mamak juga tahu bahwa seorang ibu butuh pakaian khusus saat memiliki bayi? Setelah melahirkan, Mamak membutuhkan baju yang mudah dibuka di bagian dada. Yup, hal tersebut akan memudahkan Mamak saat memberi ASI.

Selain itu, Mamak juga memerlukan kain gurita untuk menahan perut agar tidak kendor pascamelahirkan, serta kain panjang untuk menahan kaki agar gerakan lebih terbatas demi menjaga bekas jahitan.

Siapkan semua pakaian itu di dalam tas yang akan dibawa ke klinik bersalin atau rumah sakit. Jika kontraksi telah terasa, Mamak tinggal angkat tas, tanpa harus mengumpulkannya dulu.

2. Siapkan Biaya dengan Risiko Tertinggi

Sejak pertama hamil, Mamak sebaiknya telah mengonsultasikan kesehatan kandungan ke puskesmas, rumah sakit, atau fasilitas kesehatan lainnya. Dari sana Mamak bisa mendapatkan rekomendasi tempat bersalin dan dokter atau bidan yang disesuaikan dengan riwayat kesehatan Mamak.

Cari tahu besaran biaya yang dibutuhkan untuk proses persalinan nomal maupun operasi caesar. Siapkan dana yang dilebihkan minimal 25% untuk biaya tak terduga. Jika menggunakan asuransi, pastikan semua berkas telah dilengkapi.

3. Setting Kamar

Sampai beberapa pekan setelah melahirkan, gerakan Mamak akan sangat terbatas. Sebagian orang menyukai tidur hanya dengan menggunakan kasur (tanpa tempat tidur). Jika Mamak dan pasangan tergolong yang demikian, maka sebelum melahirkan lebih disarankan untuk memasang kembali kasur ke tempat tidur.

Alasannya, Mamak akan kesulitan menekuk kaki saat hendak tidur atau meletakkan bayi. Tempat tidur yang lebih tinggi akan memudahkan Mamak untuk naik dan turun. Siapkan pula keranjang pakaian dan perangkat lainnya tak jauh dari tempat tidur. Bayi tidak mengenal waktu. Pagi, siang, sore, malam, ia tak peduli kapan pipis, pup, dan lapar. Mengatur kamar berfungsi untuk memudahkan aktivitas Mamak mengurus diri dan bayi nantinya.

4. Bersihkan Puting

Perawatan payudara khusus untuk persiapan menyusui, sebaiknya dilakukan setelah kandungan berusia 5-6 bulan. Lakukan pemijatan menggunakan minyak kelapa atau baby oil. Urut payudara searah jarum jam, lalu berbalik arah, kemudian dari pangkal ke puting. Pemijatan berguna untuk melancarkan peredaran darah, dan proses keluarnya ASI kelak.

Bersihkan puting dengan kapas dan minyak, lalu bilas menggunakan air hangat dan air dingin. Pastikan bayi Mamak nanti mendapatkan kolostrum, yaitu cairan sebelum ASI yang berwarna kekuningan. Menurut WHO, kolostrum berfungsi mengaktivasi sistem imun bayi.

persiapan punya anak

Persiapan Psikis Sebelum Melahirkan

1. Sambut Bayi dengan Optimis dan Bahagia

Anak pertama adalah model bagi adik-adiknya. Maka pembentukan karakter yang baik wajib berhasil untuk bayi pertama. Perilaku anak pertama akan sangat berpengaruh ke anak-anak yang lahir berikutnya. Selain kualitas asupan gizi selama kehamilan, kondisi psikis seorang ibu juga memengaruhi bayi di dalam kandungan.

Ajak bayi Mamak bicara, ungkapkan kebahagiaan Mamak dalam menyambut kehadiranyanya. Janin sudah bisa mendengar sejak usia 4 bulan dalam kandungan, jadi tak usah ragu untuk merayunya agar keluar dengan lancar.

Mungkin terdengar aneh, ya Mak, namun hal tersebut juga membantu Mamak mensugesti diri. Hampir semua persalinan dilalui dengan rasa sakit yang kuat, tapi perempuan di dunia bisa melewatinya karena melihat anak yang dilahirkannya.

2. Kondisi Psikologi Ibu Memengaruhi Kualitas dan Kuantitas ASI

Jumlah ASI tidak bergantung pada ukuran payudara. Selain banyak mengonsumsi sayuran, Mamak juga harus berpikir positif. Jika seorang ibu terlalu mengkhawatirkan sedikitnya ASI yang ia punya, biasanya itu justru dapat memicu ASI jadi benar-benar sedikit.

Sejak awal sebaiknya tidak memikirkan susu formula, Mak. Yakinkan diri bahwa ASI yang Mamak punya mencukupi hingga dua tahun. Percaya deh, optimisme ini tidak akan sia-sia. Hasilnya bisa Mamak lihat kelak.

Anak yang mendapatkan ASI hingga genap usia dua tahun tak hanya memiliki daya tahan tubuh yang bagus, namun juga kematangan mental yang baik. Memberi ASI hingga dua tahun juga memberi manfaat bagi Mamak, yakni mencegah kanker payudara sekaligus menjaga jarak dengan kehamilan berikutnya.

3. Hati-hati Baby Blues

Sangat tidak disarankan, seorang ibu baru mengurus bayi seorang diri. Setidaknya diperlukan dua orang asisten untuk bergantian mengasuh. Bisa suami, ibu (nenek dari bayi), atau saudara. Baby blues sydrome atau Postpartum Distress Syndrome adalah perubahaan suasana hati, sedih dan bingung yang terjadi sekira dua pekan pascamelahirkan.

Kebanyakan orang tidak mengira sindrom ini akan terjadi, sehingga persiapan sebelum melahirkan seringkali tidak mengikutsertakan kesiapan mental untuk mencegahnya. Baby blues disebabkan oleh perubahan hormonal, perubahan fisik dan psikis, serta perubahan sosial seorang ibu. Jika tidak diawasi, dan terjadi lebih dari 14 hari, baby blues dapat berakibat fatal.

Baby blues dapat diatasi dengan banyak ibadah. Mamak yang beragama Islam tetap bisa berzikir meski dalam keadaan nifas. Tanamkan keikhlasan, dan komunikasikan perasaan dengan baik pada pasangan, agar baby blues segera berakhir sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.

Selain itu, agar baby blues tak muncul, upayakan mendapat waktu istirahat yang cukup. Makanya, sampaikan pada suami bahwa mereka wajib turut berperan dalam mengasuh anak-anak ya, Mak!

4. Perdengarkan Ucapan yang Baik

Ikatan batin ibu-anak tidak hanya terjadi ketika pusar janin dan ibu terhubung. Saat pemberian ASI, lebih utama jika bayi dipangku atau dipeluk. Kemudian ASI diberikan secara langsung, bukan dari botol.

Sentuhan dan kontak mata mendukung terjadinya ikatan yang kuat antara ibu dan anak, karena saat itu hormon oksitosin (hormon kasih sayang) sedang aktif berproduksi. Saat hormon oksitosin bekerja, Mamak sebaiknya berpikir positif dan mengucapkan kata-kata yang baik.

Mamak bisa menyenandungkan selawat, berdoa, atau mengajak bayi bicara tentang cinta dan harapan yang indah. Jangan lupa tatap matanya ya, Mak! Lihatlah senyum mereka yang indah itu.

Gimana, Mak, makin tambah siap kan jadi ibu? Jangan lupa untuk mempraktikkan persiapan sebelum melahirkan di atas, ya! Semoga prosesnya lancar, dan Mamak serta keluarga sehat selalu!

Previous

Ini Mak, 10 Tips Menjadi Tua Tanpa Penyakitan

BBM Ramah Lingkungan Guna Mewujudkan Program Langit biru

Next

Leave a Comment